Siklus pengembangan suatu sistem informasi untuk membangun dan mengimplementasikan sistem informasi bisnis di suatu perusahaan dan prototyping yang digunakan sebagai suatu teknik yang efektif untuk meningkatkan proses pembangunan sistem bagi end users (pengguna sistem informasi) dan bagi IS specialist (para specialis sistem informasi)

Ujian                                    : Take Home NO 2

Dosen                                 : Dr. Ir. Arif Imam Suroso, M.Sc.

Mata Kuliah                    : Sistem Informasi Manajemen

Waktu Upload               : 25 September 2012

Waktu Penyerahan   : 26 September 2012

 

Pertanyaan No 2

Jelaskan dan berikan contoh langkah langkah yang diperlukan dalam siklus pengembangan suatu sistem informasi untuk membangun dan mengimplementasikan sistem informasi bisnis di suatu perusahaan. Jelaskan pula bagaimana prototyping dapat digunakan sebagai suatu teknik yang efektif untuk meningkatkan proses pembangunan sistem bagi end users (pengguna sistem informasi) dan bagi IS specialist (para specialis sistem informasi)

Jawaban:

Ada berbagai pendekatan yang dapat dipergunakan dalam proses pengembangan sistem informasi ini, diantaranya :

1. System Development Life Cycle (SDLC)

System Life Cycle (SLC) adalah proses evolusi yang diikuti oleh pelaksanaan system informasi dasar-dasar atau subsistem. Telah ada pendekatan implementasi tradisional sepanjang era komputer, dan ada perjanjian umum antara ahli-ahli komputer sehubungan dengan tugas-tugas yang dilaksanakan. Siklus pengembangan sistem informasi menurut O’Brien dan Marakas (2011) merupakan proses multilangkah yang menggunakan pendekatan sistem untuk mengembangkan sebuah solusi sistem informasi. Terdapat lima langkah dari proses pengembangan sistem informasi, yaitu:

  1. Investigasi sistem, Produk dari tahap ini adalah studi kelayakan sebagai studi awal untuk merumuskan informasi yang dibutuhkan oleh pemakai akhir dan kelayakan proyek yang diusulkan dalam proses pengembangan sistem yang dapat memakan biaya besar. Studi kelayakan juga harus memperhatikan seluruh faktor-faktor baik kelayakan organisasional, ekonomi, teknis, maupun operasional. Langkah yang dilakukan adalah 1) Tentukan bagaimana menanggapi peluang dan prioritas bisnis; 2) Lakukan studi kelayakan untuk menentukan apakah sistem bisnis yang baru dan lebih baik merupakan solusi yang layak; 3)Kembangkan rencana manajemen proyek dan dapatkan persetujuan manajemen.
  2. Analisis sistem, Produk dari tahap analisis sistem ini adalah persyaratan fungsional sebagai dasar desain sistem informasi baru. Langkah yang dapat dilakukan yaitu: 1) Analisis kebutuhan informasi karyawan, pelanggan, dan pemilik kepentingan bisnis lainnya 2) Kembangkan persyaratan fungsional sistem yang dapat memenuhi prioritas bisnis dan kebutuhan semua pemilik kepentingan. Misalnya mengukur kelayakan aplikasi bisnis e-commerce, maka dikaji kelayakan ekonomi, kelayakan teknis, dan kelayakan operasional.
  3. Desain sistem, Langkah yang dapat dilakukan dengan mengembangkan spesifikasi untuk hardware, software, orang-orang, jaringan, dan data serta produk informasi yang dapat memenuhi persyaratan fungsional dari sistem informasi bisnis yang diusulkan. Proses desain akan menerjemahkan syarat kebutuhan ke sebuah perancangan perangkat lunak yang dapat diperkirakan sebelum dibuat coding. Proses ini berfokus pada : struktur data, arsitektur perangkat lunak, representasi interface, dan detail (algoritma) prosedural. Merancang alir kerja (workflow) dari sistem dalam bentuk diagram alir (flowchart) atau Data Flow Diagram (DFD). Merancang basis data (database) dalam bentuk Entity Relationship Diagram (ERD) bisa juga sekalian membuat basis data secara fisik.
  4. Implementasi sistem, Langkah yang dapat dilakukan yaitu: 1) Kembangkan hardware dan software 2) uji sistem dan latih orang-orang untuk mengoperasikan dan menggunakannya 3) Ubah ke sistem bisnis yang baru 4) kelola pengaruh perubahan sistem terhadap pemakai akhir. Program komputer yang ditulis menggunakan bahasa pemrograman konvensional atau aplikasi generator. Alat pemrograman seperti kompiler, Juru, Debuggers digunakan untuk menghasilkan kode.
  5. Pemeliharaan sistem, langkah yang dapat dilakukan menggunakan proses tinjauan pasca implementasi untuk mengawasi, mengevaluasi dan memodifikasi sistem bisnis sesuai kebutuhan.

2. Rapid Application Development

Pendekatan ini memerlukan keikutsertaan user dalam proses desain sehingga mudah untuk melakukan implementasi. Kelemahannya, sistem mungkin terlalu sulit untuk dibuat dalam waktu yang singkat yang pada akhirnya akan mengakibatkan kualitas sistem yang dihasilkan menjadi rendah.

3. Object Oriented Analysis and Development

Merupakan program dengan menggunakan objek untuk mendisain aplikasi dan program komputer. Integrasi data dan pemrosesan selama dalam proses desain sistem akan menghasilkan sistem yang memiliki kualitas yang lebih baik serta mudah untuk dimodifikasi. sistem yang dirancang akan dibuat berdasarkan kolaborasi dari objek yang digunakan. Namun, metode ini sulit untuk mendidik analis dan programmer sistem dengan menggunakan pendekatan object oriented serta penggunaan modul yang sangat terbatas.

Prototyping dapat digunakan sebagai suatu teknik yang efektif untuk meningkatkan  proses pembangunan sistem bagi end users dan bagi  IS specialists ?

Model Prototyping

Prototyping berada pada tahap design dari langkah langkah dalam siklus pengembangan suatu sistem informasi digunakan untuk membantu pengembang sistem informasi dalam membentuk model dari perangkat lunak yang akan dibuat, dengan membuat model dapat diketahui kebutuhan pengguna yang mungkin saja sulit untuk ditentukan. Sebelum pengguna menentukan bahwa kebutuhannya telah dapat ditangkap secara lengkap oleh pembuat sistem informasi maka biasanya dibuat beberapa kali perubahan model yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Model prototipe yang dibuat tersebut dapat berupa Bentuk prototype di atas kertas dengan skema  yang menggambarkan interaksi antara pengguna yang mungkin terjadi, Working prototype, model implementasi dari sebagian fungsi yang nanti akan digunakan dari yang ditawarkan perangkat lunak dan model yang menggunakan program jadi yang melakukan sebagian atau seluruh fungsi yang akan dilakukan, tapi masih ada fitur yang masih dikembangkan. Oleh karena itu prototyping dapat digunakan sebagai suatu teknik yang efektif untuk meningkatkan  proses pembangunan sistem mengingat prototyping menggabungkan berbagai langkah dalam siklus pengembangan sistem dan mengubah berbagai peran pakar SI dan pemakai akhir melalui berbagai tahapan sebagai berikut:

1)      Identifikasi kebutuhan bisnis pemakai akhir

Para pemakai akhir mengidentifikasi kebutuhan bisnis mereka dan menilai kelayakan beberapa alternatif solusi sistem informasi.

2)      Pengembangan prototipe sistem bisnis

Membangun prototyping aplikasi pengembangan  dengan membuat model sebagai uji coba yang mewakili kebutuhan pengguna secara garis besar.

    3)  Revisi prototipe kedalam bentuk yang mendekati kebutuhan end user

Prototipe sistem bisnis diuji, dievaluasi, dan dimodifikasi berulang-ulang hingga para pemakai akhir dapat menerimanya. Revisi prototipe agar memenuhi kebutuhan pemakai akhir.

    4)   Memelihara sistem bisnis yang telah diterima

Sistem bisnis yang diterima dapat dimodifikasi dengan mudah karena sebagian besar dokumentasi sistem disimpan dalam disk.

Pembuatan prototipe (prototyping) adalah pengembangan yang cepat dan pengujian terhadap model kerja atau prototipe, dari aplikasi baru dalam proses yang interaktif dan berulang-ulang yang dapat digunakan oleh ahli SI dan praktisi bisnis Berikut adalah contoh pengembangan sistem berbasis prototipe untuk aplikasi bisnis yaitu:

  • Tim. Beberapa pemakai akhir dan pengembang SI membentuk tim untuk mengembangkan aplikasi bisnis.
  • Skematis. Desain skematis prototipe awal dikembangkan
  • Prototipe. Skematis diub\ah menjadi prototipe tunjuk dan klik sederhana dengan menggunakan alat pembuat prototipe.
  • Presentasi. Beberapa koneksi rutin dan layar disajikan ke pemakai.
  • Tanggapan. Prototipe diulangi setelah menerima tanggapan dari pemakai.
  • Konsultasi. Dilakukan untuk mengidentifikasi perbaikan potensial dan kesesuaian dengan standar yang ada.
  • Penyelesaian. Prototipe dikonversi menjadi aplikasi akhir.
  • Penerimaan. Pemakai meninjau dan menerima sistem bisnis yang baru.
  • Instalasi. Software bisnis yang baru diinstal pada server jaringan.

Studi Kelayakan

Feasibility Study (studi kelayakan) adalah studi awal untuk merumuskan yang dibutuhkan oleh pemakai akhir seperti kebutuhan sumber daya, biaya, manfaat, dan kelayakan proyek yang diusulkan. Tujuan diadakan studi kelayakan adalah untuk mengevaluasi solusi sistem alternatif dan mengusulkan aplikasi bisnis yang paling layak dan paling diinginkan untuk dikembangkan. Kelayakan usulan sistem bisnis dapat dievaluasi dala empat kategori besar.

            Organizational Feasibility (kelayakan organisasional) berfokus pada sebaik apakah dukungan sistem yang diusulkan terhadap prioritas bisnis strategis organisasi. Economic Feasibility (kelayakan ekonomi) berhubungan dengan apakah penghematan biaya, peningkatan pendapatan, peningkatan keuntungan, pengurangan investasi yang diperlukan, dan manfaat lain yang diharapkan akan melebihi biaya pengembangan dan biaya operasional sistem yang diusulkan.

            Cost/Benefit Analysis (analisis manfaat). Analisis manfaat biasanya termasuk dalam studi kelayakan. Jika biaya dan manfaat bisa dihitung, hal ini disebut berwujud (tangible), jika tidak bisa dihitung disebut tak berwujud (intangible).

Analisis Sistem

Analisis sistem merupakan studi mendalam mengenai informasi yang dibutuhkan oleh pemakai akhir yang menghasilkan Functional Requirement (persyaratan fungsiona) yang digunakan sebagai dasar untuk desain sistem informasi baru. Analisis sistem secara tradisional melibatkan studi yang rinci mengenai:

  • Informasi yang dibutuhkan oleh perusahaan dan pemakai akhir.
  • Aktivitas, sumber daya, dan produk dari satu atau lebih sistem informasi yang saat ini digunakan.
  • Kemampuan sistem informasi yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan informasi, dan pemilik kepentingan bisnis lainnya yang mungkin menggunakan sistem ini.

Pengembangan Pemakai Akhir

Pengembangan sistem baru dilakukan dengan menjawab pertanyaan mengenai kebutuhan informasi spesifik dari pemrosesan informasi. Kemudian praktisi SI akan menganalisis masalah dan menyarankan solusi alternative bagi pengembangan sistem yang diharapkan. Perusahaan bisa saja terlibat dalam proses desain prototipe atau menjadi tim pengimplentasikan bersama dengan para ahli SI. Akan tetapi, pada tahap End User Development (pengembangan pemakai akhir), praktisi SI memainkan peran sebagai konsultan, sementar perusahaan melakukan pengembangan aplikasinya sendiri.

Mengimplementasikan Sistem Baru

Implemenatsi dapat menjadi proses yang sulit dan memerlukan banyak waktu. Akan tetapi, hal ini vital dalam memastikan kesuksesan sistem yang baru dikembangkan, karena meskipun sistem tersebut didesain dengan baik, sistem tersebut akan gagal jika tidak diimplementasikan dengan baik. Oleh sebab itu, proses implementasi biasanya memerlukan usaha Project Management dari para manajer unit bisnis.

 

DAFTAR PUSTAKA

O’Brien, James A. dan Marakas, George M. 2011. “Management Information Systems, 10th Edition”. McGraw-Hill/ Irwin, New York.

Prototyping. http://ami26.chan.wordpress.com diakses tanggal 23 September 2012

 

Leave a Reply


Refresh



Current ye@r *